Rabu, 18 April 2018

Cewek Penyuka Sesama Jenis Yang Suka Memegang Toket

Cicibugil.blogspot.com - Beginilah cerita seks sejenis ini bermula, Mila menghempaskan pantatnya di sofa lalu duduk bersila sambil menenggak air putih dari gelasnya. “Udah selesai belum?” tanyanya pada Yuli yang duduk di lantai mengerjakan soal-soal latihan matematika di meja ruang tamu rumah Mila. “Dikit lagi kok,” jawab Yuli tanpa mengangkat wajah dari buku-buku di depannya.

CERITA DEWASA 2018


Mila mengamati wajah Yuli yang serius menyelesaikan tugasnya. Walaupun berambut pendek cepak seperti lelaki, namun Yuli tetap tak bisa menyembunyikan kecantikan wajahnya, yang ditunjang oleh tubuhnya yang langsing dengan sepasang buah dada yang cukup besar, berkembang lebih cepat daripada para gadis kelas 1 SMP sebayanya.

NONTON BOKEP ONLINE


Mila memang punya alasan tersendiri bersedia mengajari Yuli matematika di rumahnya menjelang ulangan umum ini. Walaupun menjadi incaran banyak cowok di sekolahnya, tak satu pun mendapat sambutan dari Mila. Pasalnya gadis cantik berambut panjang yang baru saja berkembang remaja dan mulai mempunyai hasrat seksual ini ternyata tak tertarik kepada lawan jenis, ia lebih menyukai berdekatan dan bersentuhan dengan sesama gadis.

AGEN BOLA PIALA DUNIA 2018


Saat Yuli, adik kelas yang memang sudah lama ia sukai ini meminta Mila yang memang terkenal paling pintar di antara murid-murid kelas 2 untuk mengajarinya matematika, Mila tak menyia-nyiakan kesempatan Emas ini. “Udah nih!” tukas Yuli mendadak, menyentakkan Mila dari lamunannya.

Mila menatap Yuli yang mengacungkan buku di depannya sambil tersenyum, lesung pipitnya tercetak begitu dalam di pipinya yang putih mulus itu, membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan. Sambil menyambar buku itu, Mila membuang jauh-jauh pikirannya yang melayang ke mana-mana, “Sini gue periksa!” tukasnya.

Hampir selesai Mila memeriksa pekerjaan “muridnya” ini ketika mendadak ibunya muncul di ruang tamu menjelaskan bahwa ia akan menyusul ayah Mila ke kantor sambil membawa adik Mila yang masih kecil, lalu dari sana langsung pergi ke Sukabumi karena ada saudara mereka yang sakit keras.

Mila diminta menjaga rumah baik-baik bersama Iroh, sang pembantu rumah tangga. Telah terdidik mandiri sejak kecil, Mila tak merasa berat dengan keadaan ini. Tak lama, ibu dan adiknya pergi naik taksi dan Mila pun menyelesaikan memeriksa latihan Yuli. “Lumayan, cuma satu yang salah.

Lu cepet ngerti juga ya, Em?” kata Mila. Yuli tersenyum malu-malu mendengar pujian ini, lalu pamit untuk pulang karena hari sudah menjelang malam. “Eh, jangan dulu dong! Emanng yang salah ini nggak mau dikoreksi dulu? Sekalian deh gue jelasin kesalahannya, biar lu ngerti,” kata Mila.

“Tapi entar gue pulang kemalemann, Mil,” jawab Yuli bingung. “Gini aja. Lu telepon aja nyokap lu. Bilang lu nginep di sini malem ini. Sekalian nemenin gue,” balas Mila. Walaupun nada bicaranya biasa saja, dalam hati Mila sangat berharap Yuli menyambut usulnya ini. “Kalo dikasih, ye?” jawab Yuli membuat Mila girang.

Yuli yang mengagumi kakak kelasnya yang cantik dan pintar ini sebenarnya memang senang diajak menginap. Maka ia pun menelepon ke rumahnya dan ternyata diizinkan untuk menginap. Dengan gembira, Mila merangkul leher Yuli, dan mengajaknya ke meja makan untuk makan malam. Lengannya jatuh dengan santai di dada Yuli selagi mereka berjalan. Cerita Seks Bergambar

Walau tampak santai, sebenarnya Mila sangat berdebar-debar merasakan buah dada lembut adik kelasnya ini bergesek-gesek dengan tangannya. Tapi apa lacur, jarak tak jauh membuat Mila terpaksa melepas rangkulannya. Selesai makan, mereka pun melanjutkan pelajaran dengan serius, hingga Mila pun melupakan sensasi gairah singkat yang sempat ia rasakan.

“Udeh dulu ye, Mil?” pinta Yuli setelah sekitar 1,5 jam belajar, “Otak gue udeh butek nih!” lanjutnya setengah memohon. “Iya deh. Gue juga udah capek,” jawab Mila, “Yuk ah!” katanya sambil berdiri membereskan buku-buku di meja makan.

Mereka beranjak ke kamar Mila dan Yuli langsung menghenyakkan tubuhnya di ranjang sementara Mila sendiri duduk di kursi meja belajarnya. Mereka mengobrol tak tentu arah beberapa saat ketika akhirnya arah obrolan entah kenapa mulai menyinggung ke arah yang sensitif. “Ooh, jadi lu udah mens?” kata Mila, lalu dilanjutkan, “Jadi udah doyan cowok dong?” “Tapi gue masih males cari pacar. Cowok-cowok pada kasar sih! Nggak demen gue!” balas Yuli.

Mila yang merasa mendapat angin langsung mengarahkan pembicaraan. “Lha, gue kirain toket lu gede karena sering dipegang-pegang ama pacar lu.” “Enggak lagi. Ini Emang dari sononya begini,” jawab Yuli sambil menatap buah dadanya, “Kayaknya sih Emang keturunan, keluarga gue yang cewek toketnya Emang gede-gede.”

Mila yang mulai berdebar-debar dengan arah pembicaraan ini merasa mendapat jalan dan terus menekan. Ia membuka kaosnya, menampilkan mini set menutupi buah dadanya yang kecil, walaupun tampak mulai tumbuh. “Kayaknya toket gue nggak gede-gede deh,” ujarnya sambil meloloskan mini set dari dadanya, menampilkan putingnya yang berwarna coklat muda, “Gue pengen segede punya lu, Em.” Yuli terhenyak melihat kakak kelasnya dengan santai bertelanjang dada di depannya.

Seumur hidup ia belum pernah melihat wanita telanjang, bahkan ibunya sendiri.Mila melanjutkan serangannya. “Coba deh lihat toket lu.” Yuli semakin terbelalak. “Ah, malu ah gue!” “Idih, ngapain malu lagi! Kan nggak ada cowok,” tukas Mila, “Ayo buka aja.” Agak bingung namun bangga dengan perhatian sang kakak kelas, Yuli pun akhirnya meloloskan kaos dari tubuhnya, menampilkan BH putih yang menyembunyikan buah dadanya.

Mila beranjak ke ranjang dan duduk di belakang Yuli, langsung meraih dan melepaskan kait BH Yuli. Wajah Yuli bersemu merah, apalagi saat Mila melepas BH-nya lalu menarik lengannya, membalikkan badannya hingga kini mereka duduk berhadapan di ranjang, sama-sama bertelanjang dada. Yuli tertunduk sementara Mila merasakan darahnya berdesir menyaksikan pemandangan indah sepasang buah dada berukuran 34 di hadapannya ini.

Mila menelan ludah berusaha mengendalikan pengalaman seksual pertamanya ini. Ia melihat wajah Yuli yang menghindari kontak mata dengannya. “Em, lu kok malu sih? Toket lu bagus lagi.” Yuli melirik Mila, “Segini sih kecil, Mil. Kakak gue pake BH nomor 36B.” “Ya dia kan udah kuliah,” tukas Mila, “Untuk usia lu, toket lu tuh udah gede.” Wajah Yuli semakin memerah dengan perasaan malu bercampur bangga akan pujian kakak kelasnya yang cantik ini.

Sementara di lain pihak, Mila sendiri semakin berdebar-debar dan memberanikan diri melanjutkan eksperimen seksualnya. “Gue pegang, ya?” pinta Mila sambil menatap Yuli. Gadis manis berambut cepak ini ternyata masih belum berani menatap Mila dan tak memberi jawaban apa-apa.

Mila menganggap Yuli tak menolak dan segera meraih dada adik kelasnya ini. Yuli menggigit bibir. “Hi hi hi hi hi..” Yuli terkikik saat Mila mengelus-elus buah dadanya dengan jantung berdebar-debar, “Geli, Mil!” lanjut Yuli lagi. “Gue mau ngerasain juga dong!” tukas Mila sambil meraih tangan Yuli dan menuntunnya ke arah dadanya.

Yuli kembali menggigit bibir, namun tak memberikan perlawanan. Tangannya menyentuh puting Mila dan ia pun menggerakkan tangannya berputar-putar meraba buah dada Mila. Yuli terpesona saat ia melirik wajah kakak kelasnya ini dan tampak Mila memejamkan mata sambil menggigit bibir. Tampak sekali bahwa Mila sangat menikmati sentuhannya. “Enak ya, Mil?” tanya Yuli setengah bingung, Mila hanya menganggukkan kepala tanpa membuka mata, “Coba lu raba gue lagi dong,” pinta Yuli penasaran.

Kedua gadis itu pun saling meraba buah dada masing-masing beberapa saat. Tampak Mila sangat menikmati sensasi seksual pertamanya ini. Kulit telanjang mereka sama-sama tampak merinding. Mila melepaskan tangannya dari dada Yuli, lalu menghela napas panjang, menikmati dengan sepenuh hati rangsangan gairah pertamanya ini, sementara Yuli kembali terkikik geli.

Mila bangkit dan menarik lengan Yuli agar mengikutinya berdiri. “Lu mau tahu nggak rasanya kalo pacaran ama cowok?” tanya Mila yang membuat Yuli bingung tak mengerti. Mila melanjutkan, “Gue juga belom pernah. Kita cobain yuk?!” Yuli semakin tak paham maksud Mila, namun diam saja saat Mila membungkukkan badannya dan langsung mengulum puting Yuli dengan lembut.

Yuli tersentak dan sontak mundur sambil mendorong kepala Mila, “Gila lu, Mil! Geli lagi! Lihat tuh gue sampe merinding!” tukas Yuli menunjukkan seluruh kulit tubuhnya yang memang berbintik-bintik merinding. Tetap dalam posisi membungkuk, Mila melirik sang adik kelas sambil berkata, “Namanya juga baru nyobain. Lu rasain aja dulu. Kata orang-orang enak.”

Mila merengkuh pinggang Yuli dan menariknya mendekat, sementara Yuli yang kebingungan dengan pengalaman pertama yang baginya sangat aneh ini tak kuasa melawan. Dengan jantung berdebar penuh perasaan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Mila kembali menempelkan bibir mungilnya yang basah itu pada puting Yuli dan dengan lembut memasukkan puting berwarna gelap itu ke dalam mulutnya.

Ia mengulum puting Yuli dengan lembut sementara Yuli menggigit bibir menahan rasa geli hebat yang kembali membuat seluruh tubuhnya merinding. Tak lama hingga Yuli merasakan rasa geli berubah menjadi perasaan berdesir yang tak ia pahami dan tak bisa ia jelaskan.

Setiap hisapan Mila memberikan semacam perasaan tersetrum ringan yang nikmat dan lenguhan kecil terlepas dari bibirnya tanpa terkendali, “Uhh..” Terkesiap mendengar ini, Mila menghentikan hisapannya dan bangkit menatap Yuli, “Enak ya, Em?” tanyanya dengan polos dan tulus.

Yuli tak bisa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. “Terus terang, gue juga suka banget ngisepin pentil lu,” lanjut Mila lagi, “Gue nggak bisa jelasin perasaan gue, tapi pokoknya enak banget deh, terangsang banget.” Yuli kembali hanya mengangguk tanpa bisa bicara.

Kini Mila menarik lengan Yuli dan mendudukkannya di pinggir ranjang, sementara ia sendiri berlutut di lantai, “Gue terusin ya?” katanya lembut. Tanpa menunggu jawaban dari Yuli, Mila langsung kembali mendaratkan bibirnya di puting adik kelasnya yang kebingungan itu dan kembali mengulumnya, kali ini dengan gairah yang semakin bergelora dalam dadanya sendiri. Dengan refleks, Mila mulai memainkan lidahnya pada puting Yuli, membuat Yuli terpekik tertahan sambil mendadak kedua tangannya mencengkeram kepala Mila. Namun kali ini Yuli tak mendorong Mila. Sebaliknya ia malah seperti menarik kepala Mila agar menghisap dan menjilati putingnya semakin keras.

Mila sendiri sangat menikmati gairah yang semakin meledak-ledak dalam dirinya, ditambah reaksi Yuli yang membuatnya semakin terangsang, hingga lidah dan bibirnya semakin liar menjilati dan menghisapi puting Yuli. “Ohh..” Yuli mendesah tanpa ia sadari. Mila pun melepas mulutnya dari buah dada Yuli, membuat kekecewaan dan rasa terkejut terbersit di wajah Yuli.

“Gantian dong, Em,” kata Mila, “Kayaknya lu nikmatin banget. Gue kan juga mau ngerasain,” lanjutnya dengan perasaan penuh pengharapan dan antisipasi. Yuli tentunya memahami ini walaupun merasa sangat aneh harus menghisap buah dada sesama wanita, namun setelah ia merasakan kenikmatan dan rangsangan gairah yang baru kali ini ia rasakan, ia tahu Mila pasti akan merasakan kenikmatan yang sama.

Maka kini Mila duduk di pinggir ranjang dan Yuli, masih tetap duduk di pinggir ranjang, membungkukkan badan dan mulai mengulum dan menghisap puting Mila. “Ngghh..” lenguhan Mila langsung meledak begitu bibir basah Yuli menghisap putingnya yang kecil dan segar itu.

Mata Mila terpejam rapat sementara darahnya menggelegak oleh rangsangan dan kenikmatan hebat yang baru kali ini ia rasakan. Tahu kakak kelasnya menikmati ini, Yuli semakin rileks dan melanjutkan hisapan dan jilatannya pada puting Mila, bahkan semakin lama semakin liar dan ganas, membuat Mila terpaksa mencengkeram kepala Yuli dan merintih-rintih menahan gairah, “Aaahh.. ahh.. Emm.. Enak Emm..” Yuli sendiri tak menyangka akan menikmati pengalaman ini, memeluk tubuh Mila dan semakin menjadi-jadi menghisapi puting Mila. “Ohh.. ohh.. ohh.. stop.. stop.. stop dulu Em.. ohh.. Emm..” desah Mila.

Bingung dan takut tindakannya salah hingga Mila tak lagi menikmati ini, Yuli berhenti menjilati puting Mila dan menatap kakak kelasnya yang terengah-engah dengan wajah merah padam penuh birahi ini, “Kenapa, Mil? Nggak enak, ya?” tanya Yuli bingung. “Gila lu! Nikmat banget lagi,” balas Mila, “Cuma gue berasa aneh nih, Em. Kayaknya celana dalem gue makin basah deh.” Yuli terbeliak semakin bingung mendengar itu. “Mungkin saking nikmatnya gue kencing dikit di celana kali,” lanjut Mila sama-sama tak mengerti.

Mila langsung bangkit berdiri dan melepas celana pendeknya, lalu meraba celana dalamnya, “Tuh kan! Bener basah!” tukasnya lalu ia mencium tangannya yang baru ia pakai meraba selangkangannya itu, “Tapi bukan kencing nih, Em. Nggak pesing tuh!” ujar Mila yang dilanjutkannya dengan meloloskan celana dalamnya hingga kini ia benar-benar telanjang bulat berdiri di depan Yuli.

Mila memeriksa celana dalamnya dan mendapatkan sedikit lendir bening melekat di celana dalamnya. “Ih, bener, bukan kencing, Em. Lendir nih!” tukas Mila sambil menengok ke arah Yuli dan terkejut melihat Yuli tampak duduk dengan gelisah sambil menggerak-gerakkan pahanya dengan mata tampak menerawang. “Naah, lu juga basah ya, Em?” sentak Mila mengejutkan Yuli!

Serta merta Mila menarik lengan Yuli hingga adik kelasnya ini berdiri di depannya, lalu dengan cepat Mila melorotkan celana pendek sekaligus celana dalam Yuli yang masih terlalu kebingungan hingga tak melakukan perlawanan. Mila menarik celana Yuli lepas dari pergelangan kakinya lalu kembali berdiri dan menunjukkan lendir bening yang juga terdapat di bagian dalam celana dalam adik kelasnya yang cantik itu. “Tuh lihat, lu juga keluar lendirnya, Em.” Yuli hanya bengong sementara Mila semakin bergairah pada permainan seksual mereka yang ternyata berkembang jauh melebihi perkiraannya.

Dengan tinggi kurang lebih 160-an cm dan berat sekitar 45 kg, Mila dan Yuli benar-benar tampak seperti sepasang gadis cilik, sama-sama telanjang bulat, berdiri berhadapan, menjelajahi pengalaman seksual pertama mereka yang membingungkan, namun menggairahkan sekaligus memberi kenikmatan hebat.

Mila melempar kedua celana dalam ke lantai sambil mengulurkan tangannya ke selangkangan Yuli. “Ngghh..” Yuli melenguh panjang selagi setruman gairah hebat meledak dalam dirinya saat jari Mila menyentuh bibir vaginanya yang basah itu. Lututnya sontak terasa lemas dan kepalanya terasa ringan melayang. Cerita Sex

Melihat temannya limbung, Mila langsung merangkulnya dan menuntunnya kembali duduk di ranjang. Mila sendiri duduk di samping Yuli, merangkul pundak Yuli dengan sebelah tangan lalu tangan satunya kembali melanjutkan meraba vagina Yuli.

Diiringi desah gairah Yuli yang begitu merangsang di telinga sang kakak kelas, Mila menggosok-gosokkan jarinya dengan lembut di sepanjang bibir vagina Yuli yang semakin lama tampak semakin merekah, menampilkan daging merah muda segar dan basah sang perawan cilik. “Hhh.. Mil.. ohh.. ngghh.. mmhh..”Mila semakin terangsang dan semakin berani.

Ujung jari tengahnya ia masukkan ke dalam vagina Yuli dan ia gerakkan menggesek daging segar vagina Yuli yang semakin lama semakin banyak mengeluarkan lendir bening itu dari bawah ke atas, hingga menyentuh klitoris Yuli yang mulai mencuat. “Ngk! Ahh..” Yuli terpekik menggairahkan saat jari Mila mencapai klitorisnya.

Mila terkejut namun semakin terangsang melihat reaksi nikmat sang adik kelas. Wajah menggemaskan Yuli tampak semakin menggairahkan dengan mata terpejam menikmati sentuhan lembut Mila. Mempertahankan kelembutan tekanannya, jari Mila semakin cepat menggesek vagina dan klitoris Yuli, membuat Yuli mendesah dan merintih tak terkendali.

“Hhh.. hh.. ngh.. nghh.. mm.. mm.. ohh..” Sementara vagina Mila sendiri semakin basah oleh lendir gairah, Mila semakin terangsang melihat kenikmatan yang jelas-jelas ditunjukkan Yuli di wajahnya, ia pun semakin bergelora dan membungkukkan badannya dan kembali menjilati dan menghisap puting Yuli dengan liar dan bernafsu.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Mill.. gillaa.. ohh.. ennak Mil.. mmhh..” “Sllrrp.. sllrrpp.. klcp.. klcp.. sllrrpp.. klcp.. mm.. klcp.. klcp..” “Mmm.. mm.. mm.. nghh.. nghh.. Faann.. Faann.. Mill.. oh.. oh.. oh.. oh..” Desahan dan rintihan Yuli yang dipenuhi kenikmatan semakin terdengar liar dan tak terkendali, sementara Mila yang semakin terangsang menggesekkan jarinya semakin liar di vagina perawan Yuli dan lidah dan bibirnya melahap puting Yuli dengan semakin bernafsu.

Yuli sendiri merasa gelombang kenikmatan memuncak dalam dirinya dan suatu perasaan seperti kesemutan merebak perlahan-lahan ke seluruh tubuhnya. Dengan nafas tersengal-sengal, Yuli mencengkeram erat kepala Mila dan menekannya keras ke buah dadanya, lalu dalam suatu ledakan kenikmatan yang terasa bagaikan tak berujung, Yuli memekik tertahan saat perasaan kesemutan dalam tubuhnya meledak menjadi setruman kenikmatan puncak yang membuat cairan kental tumpah deras dari dalam vaginanya, membasahi jari Mila yang masih liar menggesek-gesek vaginanya.

“Aaakk!” pekik Yuli sambil dengan refleks menjepit tangan Mila dengan kedua pahanya, sementara tangannya mencengkeram kepala Mila semakin keras dan kepalanya terdongak ke belakang dengan bola mata terputar ke belakang penuh kenikmatan.

Mila yang berusaha menarik tangannya membuat jarinya kembali menggesek vagina Yuli dari bawah ke atas dengan gerakan sangat pelan, membuat Yuli kembali menikmati ledakan-ledakan kenikmatan yang terasa tak kunjung habis, semakin menggigit bibirnya.

Akhirnya tangan Mila lepas dari jepitan paha Yuli disertai lenguhan panjang Yuli yang mengakhiri kenikmatan puncak orgasme pertamanya, “Ohh..” Mila menatap penuh rasa terpesona dan bergairah saat Yuli ambruk terlentang di kasur dengan mata terpejam dan nafas terengah-engah. Ia menyusul berbaring di samping Yuli dan memeluk tubuh sang adik kelas, langsung dibalas pelukan erat Yuli yang sangat menikmati pengalaman seksual indah ini. Keduanya berpelukan erat, saling menikmati kenyamanan kehangatan tubuh yang lain.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka saling melepas pelukan dan Yuli tersenyum menatap mata Mila. Rasa cinta dan kasih sayang mendalam tersorot jelas dari mata Yuli. Mila memahami perasaan ini dan mengecup bibir Yuli dengan lembut. Mereka lalu terkikik geli bersama-sama, lalu kembali saling berpelukan erat dan Yuli berbisik di telinga Mila, “Mil, gue nggak ngerti perasaan gue saat ini.

Tapi rasanya gue nggak mau pisah dari elu. Gue rasanya sayaang banget ama elu.” Mila tersenyum dan membalas bisikan sang adik kelas, “Gue juga sayang banget ama elu, Em. Lu jadi pacar gue aja, ya?” Walaupun tak pernah terpikir akan berpacaran dengan sesama wanita, namun Yuli tak bisa memungkiri perasaannya saat ini, “Iya, Mil. Gue mau jadi pacar elu. Gue cinta ama elu.”

Mereka melanjutkan berpelukan erat dan hangat selama beberapa saat, lalu Yuli melepas pelukannya dan berkata pada Mila. “Gila, Mil. Lu bikin gue nikmat banget. Sekarang gantian ya, gue yang raba elu?” “Iya dong, gue juga mau ngerasain kayak elu. Tapi jari lu jangan dimasukin ya? Kayak gue aja tadi, digesek-gesek aja. Gue takut keperawanan gue sobek,” balas Mila. Yuli hanya mengangguk dan tetap dalam posisi rebahan, ia membuka paha Mila hingga mengangkang lebar, membuka vagina mudanya yang segar merekah, lalu mulai meraba-rabanya dengan jari tengahnya.

Tak memakan waktu lama bagi vagina Mila untuk kembali basah penuh lendir gairah, apalagi saat Yuli mendaratkan bibir dan lidahnya, mempermainkan puting Mila yang mungil itu. Desahan dan rintihan Mila pun akhirnya meledak menjadi pekikan penuh kenikmatan saat orgasme yang liar dan lama, seperti yang dinikmati Yuli, bergejolak dalam tubuh mungil Mila.

Dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, Mila dan Yuli berpelukan mesra dan penuh kasih sayang, hingga akhirnya mereka tertidur pulas hingga pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

image and video hosting by tinypic